Pages

Showing posts with label Behind The Scene. Show all posts
Showing posts with label Behind The Scene. Show all posts

November 17, 2011

Penikmat Kue Bisnis Seluler (GSM)



Baru saja membaca berita yang menyebutkan bahwa omzet bisnis seluler nasional setiap tahunnya ternyata mencapai Rp. 470 triliun (Banyak juga ya). Namun sayang sebagian besar uang itu mengalir ke kantong perusahaan asing, bukan ke perusahaan negeri sendiri. Bagaimana tidak, lha wong hampir sebagian besar kepemilikan saham di bisnis seluler dikuasai perusahaan asing.

Direktur Center for Indonesian Telecommunication Regulation Study (Citrus), Asmiati Rasyid menyebutkan, omzet sebanyak itu terdiri dari berbagai bisnis disektor telekomunikasi. Menurutnya bisnis terminal seluler per tahun beromzet terbanyak yaitu Rp. 200 T, disusul bisnis layanan sebesar Rp. 150 T, omzet bisnis perangkat jaringan Rp. 80 T, dan bisnis aplikasi Rp. 40 T. Sementara omzet bagi tenaga kerja yang sebagian besar melibatkan masyarakat Indonesia hanya mencapai Rp. 100 M saja. (pantes aja pada demo).

Untuk bisnis terminal dan perangkat jaringan, penguasanya adalah pemain yang memang sudah meng-global seperti Samsung, Motorolla, Apple, RIM, Nokia, ZTE, dan Huawei. Sementara operator telekomunikasi di Indonesia pun sebagian telah dikuasai pemodal asing.

Berikut nama perusahaan dan pemilik saham dengan prosentasenya :

PT. Telekomunikasi Seluler ( Telkomsel ) : Singapore Telecom / Singtel (35%), PT. Telkom (30%), PT. Indosat (35%)

PT. Indosat Tbk (ISAT) : Qatar Telecom/QTel (65%), Pemerintah RI (14,29%), Skagen AS (5,57%), Publik (15,14%)

PT. XL Axiata Tbk (EXCL) : Axiata Group Malaysia  (66,69%), Emirates Telecommunications/Etisalat (13,3%), Publik (20%)


PT. Hutchinson CP Telecommunications (Tri) : Hutchinson Hong Kong (60%), Charoen Pokphand Indonesia (40%)


PT. Natrindo Telepon Seluler (AXIS) : Saudi Telecom (51%), Maxis Malaysia (44%), Grup Lippo (5%)
 

Jadi, ternyata kita ini cuma baru bisa jadi konsumen yang baik...


January 22, 2011

Cukup Segelas Saja

Mudik disaat bukan lebaran ternyata menyenangkan juga. Setelah mudik ke Jogja  menggunakan kereta api, pulangnya aku putuskan untuk menggunakan motor. Dengan ditemani motor baru (beli) produksi lama, kutempuh perjalanan dari Jogja ke Bandung. Yang membuat perjalanan agak nyaman adalah jalanan relatif sepi dan terkendali.  Perasaan khawatir tentu saja ada mengingat belum kenal betul dengan motor ini (sekarang aku kasih nama Jeki). Tetapi alhamdulillah, semua bisa terlewati dengan aman, lancar, dan sampai di Bandung dalam keadaan selamat.

Dari sekian banyak kejadian, ada satu momen yang teringat yaitu saat berada di daerah Sumpyuh. Siang itu cuaca memang cukup panas, sehingga membuat tubuh dibalik jaket tebal ini terasa gerah dan dahagapun makin terasa di kerongkongan. Tak lama, akupun melewati deretan penjual es dawet ayu yang berlokasi tepat dipinggir jalan. Tentu saja rasa hausku makin mendesak untuk di hilangkan dengan seteguk dua teguk air es dawet ayu yang sangat segar dan manis itu.

Akhirnya akupun memutuskan untuk berhenti di salah satu gubug penjual es dawet ayu. Sengaja kupilih yang penjualnya bapak-bapak, agar nyaman menikmati es dawetnya. "Ah, bisa minum dua gelas nih kalau begini,"kataku dalam hati. Panas...
Tak lama kemudian akupun menikmati es dawet ayu hitam dengan penuh semangat karena kehausan sudah terlalu lam mendera (bayangkan saja selama 4 jam perjalanan baru minum satu kali).

Hanya dalam waktu singkat es dawetpun ludes kusikat... dan terpenuhi sudah rasa haus yang tadi mendera hanya dengan segelas es dawet ayu. Tidak perlu dua gelas! seperti rencana awal. Oalah, ternyata daya tampungnya cuma 1 gelas...

Selesai itupun aku hanya leha-leha diatas bangku panjang yang terbuat dari bambu. Menikmati pemandangan dan angin yang datang dari arah sawah serta pepohonan disekitar gubug. Terbuai, akupun jadi sedikit mengantuk. Namun sadar bahwa perjalanan masih jauh, kuputuskan saja untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung.

-------

Sedikit berbagi, kisah ini membuat saya menyadari bahwa diri ini sering hanya terbawa nafsu saat menginginkan sesuatu tanpa melihat kekuatan diri apakah mampu menampungnya atau tidak.

Seringkali saya mempunyai keinginan yang besar dan seringkali pula gagal mendapatkannya sehingga berujung kekecewaan. Namun berkat kejadian ini, saya agak berpikir, mungkin saja daya tampung diri ini baru sebatas ini, karena tidak menutup kemungkinan jika diberi "lebih" dari yang sekarang ini malah akan membuat diri ini tidak kuat menanggungnya.

Alangkah nikmatnya hidup sesuai porsi yang membuatku masih bisa menikmati pemandangan yang lain tanpa harus resah dengan keinginan-keinginan yang terkadang malah mengganggu...

Terima kasih Tuhan...


Jogja - Bandung, 18.01.2011

December 10, 2010

Self Confidence




"Kepercayaan diri tidak muncul dari situasi yang selalu benar, tapi lebih karena tidak takut salah"
Peter T McIntyre - Politikus dan saudagar Amerika Serikat

November 29, 2010

Second Change


"Kita semua memiliki perubahan besar dalam hidup yang kurang lebih sama seperti kesempatan kedua"

Harrison Ford 
Hollywood Actor, United States of America

Sindo, 29 Nov 2010

November 25, 2010

Pusat Alam Semesta

Dunia berputar mengelilingi Matahari. Bukan Anda, apalagi saya...
Karena kita bukanlah pusat alam semesta. 
Yang bisa kita lakukan hanyalah berbagi pengetahuan untuk dunia yang lebih baik...

June 22, 2010

2 Bulan Sudah…

2 bulan sudah Bapak meninggalkan dunia fana ini. Penyesalan itu belum juga hilang dari pikiran dan perasaanku. Penyesalan bahwa aku tidak bisa menemani disaat-saat terakhirnya, bahkan hanya sekedar melihat sosoknya untuk terakhir kalipun aku tak bisa. Aku sebagai anak pertamanya, hanya bisa menemuinya saat sudah dimakamkan. Maafkan aku Bapak… tak bisa mengantar kepergianmu.

Namun ada satu hal yang menenangkan aku adalah Bapak meninggal dipangkuan orang yang sangat mencintainya, yaitu Ibu. Bahkan Bapak sempat dituntun oleh Ibu untuk menyebut asma Allah disaat-saat terakhirnya. Ibu begitu kuat dan tegar menyaksikan orang yang sangat dicintainya menghadapi sakaratul maut, bahkan menuntun Bapak untuk menyebut asma Allah.

Jujur, aku "iri" dengan Bapak karena hal itu. Karena aku tidak yakin akan bisa seperti itu. Menghadapi kematian didampingi pasangan hidup. Bukankah hal yang seperti itu indah?

Inilah ajaran tentang kesetiaan dari Bapak. Bagaimanapun, kesetiaan akan ada buahnya. Apapun jenis kesetiaan itu. Inilah buah kesetiaan Bapak untuk bertanggung jawab atas keluarganya meskipun kondisi fisiknya lemah, karena gagal ginjal yang Bapak derita, dengan tetap membantu Ibu berjualan sayur keliling desa dan kampung dengan mobil tuanya dan kesetiaan Bapak untuk menjadikan Ibu sebagai wanita satu-satunya dalam hidup Bapak.

Aku masih sangat ingat ketika dulu mengenalkan aku tentang kesetiaan pada pasangan hidup. "Percaya sama Bapak tentang hal satu ini, untuk mendapatkan wanita itu sangat mudah saat kamu punya harta dan tahta. Tapi yang sulit adalah saat punya harta dan tahta, kemudian memutuskan untuk tetap setia kepada satu wanita. Setialah pada wanita yang sudah menyerahkan hidupnya padamu karena itulah satu-satunya agar kamu tetap dicintai oleh wanita dengan sepenuh hatinya. Kejelekan laki-laki seperti : minum, judi, dan ndhugal  itu masih ada kemungkinan untuk dimaafkan. Tapi kalau menduakan, jangan harap bisa dimaafkan. Kalaupun dimaafkan, pasti tidak akan bisa sepenuh hati".

Dulu aku tidak terlalu menanggapi hal itu dengan serius. Maklum waktu itu masih diusia belum waktunya menikah. Tapi sekarang, setelah bekerja, punya penghasilan, berumah tangga dan menyaksikan kesetiaan Ibu, aku tidak meragukan lagi ucapan Bapak tersebut.

Terima kasih Bapak karena telah mengajarkan hal baik ini kepadaku…


Bandung, 22 Juni 2010












June 18, 2010

Menaikkan Pandangan


Ada saat dimana kita sebagai manusia, mencapai posisi tertinggi dalam kehidupan kita. Entah dari sisi keluarga, karir atau mungkin dari sisi kehidupan kita yang lain. Tidak ada salahnya kita menikmati masa keemasan tersebut dimana biasanya kita menjadi lebih bahagia dibanding sebelumnya. Pada masa ini pandangan kita serasa sudah paling tinggi dalam fase kehidupan kita. Kejadian yang mewakili hal ini antara lain : menjadi Ibu atau Ayah, mendapatkan posisi sebagai manager, ekspansi usaha yang besar dan singkat, meraih emas di Olimpiade atau mampu menaklukkan puncak gunung tertentu, semisal Everest.

Berpuas diri akan raihan prestasi tersebut tidaklah salah karena memang itulah yang dicari, kepuasan diri. Namun sesaat setelah itu, hendaklah diri mulai bersiap-siap untuk melakukan pencapaian selanjutnya. Masih ada perjalanan berikutnya setelah ini. Sang bayi butuh asupan makanan dan minuman yang bergizi, sang manager harus mengelola departemennya agar menjadi yang terbaik, ekspansi usaha membutuhkan pengawasan yang semakin ekstra, sang peraih emas harus berlatih lagi agar 4 tahun lagi masih mampu bersaing dan bagi pendaki gunung, masih banyak puncak-puncak gunung yang harus ditaklukkan.

Jadi, jika saat ini Anda merasa sudah cukup dengan apa yang Anda raih, nikmatilah berkah itu namun jangan lupa untuk tetap meningkatkan kualitas diri agar tetap mampu menghadapi fase kehidupan Anda selanjutnya yang sedang dipersiapkan oleh Tuhan.

Untuk mampu melihat kejadian yang begitu kabur, tidak ada salahnya mulai saat ini Anda mulai menaikkan pandangan Anda dari kerumunan kehidupan Anda yang sekarang agar Anda bisa melihat lebih jelas keadaan yang ada diluar kerumunan kehidupan Anda yang sekarang.

Bukankah itu yang kita lakukan jika sedang berada dalam kerumunan?


May 21, 2010

Personal Blog


















Setelah berkutat dengan blog komunitas dan blog pesanan, kini aku tiba saatnya untuk membuat blog milik sendiri sebagai pelampiasan egoisme diri. Blog ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri. Semoga isinya, meskipun egois, bisa memberi manfaat kepada yang baca.